Home / BERITA / Berburu Ringgit di sudut Camp

Berburu Ringgit di sudut Camp

Oleh : Rika Yoesz

SUARASIANTAR.COM – CERPEN, Rosi, gadis belasan tahun yang sudah mengenal arti cinta sejak kelas 6 SD. Pacaran sudah beberapa kali, 5 kali membuat seorang pria patah hati, tapi 8 kali ia yang justru patah hati dengan 2 orang yang sama, putus nyambung dan sering menjadi korban PHP. Yang terakhir justru menjadi korban PTT alias Pengkhianatan Tiada Tara, tertipu cinta makelar TKW. Yah, PTT itulah yang menghantarkan Rosi pada Camp TKW Ilegal yang berpindah-pindah selama 3 tahun di negeri Jiran, sebuah negeri mimpi bagi buruh-buruh kasar Indonesia yang bangga dengan panggilan “indon”, memburuh ringgit untuk dituang ke negeri sendiri demi penghidupan.

Terlalu cepatkah Rosi mengenal Cinta ? tepatnya cinta jalanan, entah itu cinta monyet entah juga cinta palsu berbungkus nafsu anak belia. Sebab cinta yang selayaknya ia dapatkan dari keluarga, dari ayah dan ibunya tak pernah ia peroleh sejak ia dilahirkan dibumi ini. Saat masih bayi merah, ia sudah diserahkan ibu kepada uwaknya untuk dipelihara. Abangnya Resi bahkan sudah terlebih dahulu dititipkan kepada bibinya. Ibunya juga memburu ringgit ke Malaysia menjadi TKW bersama ayahnya. Di kampong sudah tak ada lagi penghidupan. Ibu pernah berjualan lontong sarapan pagi, tapi untungnya tak mencukupi untuk kehidupan. Ayahnya menjual parfum keliling, tapi lambat laun sudah tak laris karena dihantam penjual parfum palsu, ayahpun mundur karena kalah saing. Ibu banting stir jadi babu cuci dan ayah jadi kuli bangunan. Tapi ibu mundur karena digoda suami majikan dan ayah ketipu mandor yang lari tak bayar gaji. Putus asa, mereka pun memutuskan untuk menjadi TKW. Rupanya, setahun setelah mereka di sana mereka tak pulang, alasannya sayang ongkosnya mending di tabung agar bisa bangun rumah. Apa yang bangun rumah, 5 tahun sudah mereka di sana, jangankan pulang, kabar terakhir dari Uwak yang bisik-bisk dengan uwak laki, ternyata Ayah dan Ibu justru sudah bercerai.

Akh… Rosi tersenyum, ia sudah biasa mendengar cerita pahit. Sekarang ini saja ia harus siap menghadapi getir kehidupannya sendiri, akibat PTT yang dibuat si Anwar. Hari harinya terpaksa melayani laki-laki hidung belang dengan berbagai macam kulit dan warnah rambut. Harus tersenyum meski lelah, harus bahagia meski menderita, harus bisa membahagiakan meski tidak pernah bahagia. Pekerjaan yang konon katanya berdosa ini tak pernah membuatnya kaya. Ia hanya memperkaya germo dan Mucikari yang mencarikan mereka mangsa tuan-tuan berkantong tebal. Sedang uang yang mereka terima hanyalah recehan yang habis untuk membayar makan, sewa camp, obat , ramuan, pakaian , mack up, semua menguap seakan tak ada yang tersisa. Hidup tak bisa bebas karena khawatir budak budak nafsu akan melarikan diri. Tak pernah menyimpan uang di saku, tak menyimpan kartu pengenal diri apa lagi passport, bentuknya pun Rosi tidak tahu.

Sekarang Rosi ingin menjalaninya seperti biasa. Mungkin sudah menjadi nasibnya hidup pada dunia gelap, meski ia ingin sekali pulang dan menjalani hidup yang sederhana dan apa adanya, bukan sebagai pelayan seks komersil. Tapi ia seakan buntu, taka ada yang bisa ia perbuat untuk lari dari Camp sesat ini. 3 tahun sudah ia menjalani sejak ia berusia 15 tahun tertipu oleh lelaki yang memperdayainya dengan menjadi pacarnya. Rosi tertipu dengan kemewahan yang ditawarkan Anwar selama menjadi pacar, tidak tahunya, semua itu tipu daya. Ada 9 perempuan lain yang sepertinya ditipu mentah-mentah. Hanya untuk dijadikan serdadu cinta di camp pelacuran. BI****

Hari ini, Rosi kedatangan tamu, sepertinya tamu yang tak biasa. Seharusnya hari ini Rosi mendapat jatah istirahat, badannya pun sudah terasa lelah. Tapi si Mami yang mata duitan itu tidak bisa diprotes, apa lagi tak ada pelayan lain. Katanya ini adalah pelanggan baru sehingga harus mendapat service. Muak sekali rasanya Rosi mendengar kata itu.

Benar, ia tak hanya pelanggan baru, tetapi Rosi melihat, pria itu adalah pemain baru di dunia hitam. Pria itu kikuk tapi berlagak angkuh. Usianya terlalu muda untuk memulai kehidupan kelam, wajahnya terlalu tampan untuk berada di tempat ini. Tentu saja, tanpa harus masuk ke sini pun akan banyak perempuan-perempuan dikencaninya dengan sukarela.

“Tuan mungkin salah alamat” ujar Rosi mengawali pembicaraan, mencoba mencairkan suasana, tapi justru kalimat itu yang keluar. Pria itu tak bergeming, tidak juga mendekatinya. Tetapi Rosi pun tak ada hasrat untuk merayunya, mungkin karena ia juga lelah, lelah sekali. Sekujur tubuhnya serasa mau patah, atau mungkin ia lupa minum jamu, atau lupa meneguk obat. Yah,,, sekali pun mereka melakoni pekerjaan hina, obat, jamu atau apalah sejenisnya untuk menguatkan stamina harus mereka konsumsi agar tidak cepat drop atau pun tua. Tapi kalo saatnya sudah tiba, tubuh ini pun tak mampu menolak penyakit yang datang. Dan hari ini hari yang sial buat Rosi, ia tetap harus melayani tamu meski ia tak sehat, dan wanita penikmat uang dari bisnis mesumnya itu tak mau perduli, ia sudah siap membayar para centeng untuk pekerja-pekerjanya yang dianggap membandel. Windi adalah salah satu korban, entah bagaimana nasibnya sekarang, mungkin dimakan hiu setelah dicampakan karena dianggap membandel tak mau melayani tamu.

“Menurut kamu, dimana alamat saya.” Pria itu pun mulai bersuara setelah beberapa lama mereka saling diam. suaranya terdengar merdu tapi tegas, persis seperti seorang pemimpin, akh… jangan jangan ia seorang keturunan terpandang. Mungkinkah ia orang yang kesepian ?

Pria itu tak juga mendekatinya, meski Rosi sudah memberikan sinyal selamat datang.

“Tuan terlalu bersih untuk berada di tempat hina ini” mengucapkan kalimat itu, suara Rosi serasa bergetar, seolah mengungkapkan sebuah penyesalan yang terpendam dalam di lubuk sanubarinya, yang tak pernah ia ungkapkan semenderita apa pun lakonan yang telah ia jalani.

“Itu artinya… orang-orang yang datang ke tempat ini sama hinanya, begitu ?”

“Saya tidak bilang demikian, tetapi itu sudah menjadi anggapan umum. Mungkin tidak bagi Tuan yang hanya sekedar singgah. Tapi Kami… seandainya pun kami telah meninggalkan tempat ini sekian lamanya, cap hina itu tetap menempel .

Pria itu memalingkan wajahnya, ada benci yang ia simpan.

“Ayolah…” Rosi memecah keheningan yang lama, “kita sudah telalu lama berdiam, hitungan saya perjam. Tuan bisa kena cas bila berlama-lama.”

“Hmmm… saya berani bayar kamu lebih dari lima jam.”

Tawa Rosi meledak, ia tersadar telah membuat pria itu tersinggung, “maaf saya bercanda.” Ujar Rosi. “Tapi saya tidak dibayar hanya untuk bercakap-cakap.”

“Hari ini saya membayar kamu hanya untuk bercakap-cakap dengan saya.” Ujar Pria itu sepertinya tidak bercanda. “Pakailah baju kamu.”

Rosi menatap pria itu, benarkah ? ada apa dengan Pria ini.

“pakailah baju kamu,” Pria itu memastikan, “saya mungkin salah alamat berkunjung ke tempat ini, tetapi mudah-mudahan saya tidak salah orang untuk menumpahkan kepenatan saya.”

“Saya mungkin bukan orang yang tepat pula, karena saya bukanlah pendengar yang baik, juga bukan pembicara yang handal sehingga bisa menghilangkan penat Tuan. Jadi, mungkin kita sudahi saja pertemuan ini.” Rosi terburu-buru mengenakan pakaiannya, ada yang terbersit dalam kecurigaan Rosi, jangan-jangan orang ini wartawan, atau peneliti, atau mungkin orang ini aparat, jangan-jangan … akh… Rosi ingin cepat-cepat beranjak. “maafkan saya…”

Tetapi lengan pria itu begitu kuat menaahan kepergian Rosi, Rosi menangis… “Tuan… jangan dengan saya. Saya mohon Tuan, carilah informasi dari orang lain, saya tidak cukup kuat menahan siksaan. Tolong saya…” Rosi memohon.

“Kalau kamu tak ingin bicara, kalau kamu tak ingin mendengar, maka biarkan kita berdiam di sini tanpa suara. Saya hanya meminta itu dari kamu. Dan kamu harus melayani saya karena saya yang membayar kamu. “ Suara tegas itu kembali datang, Rosi seperti terdoktrin dan menurut, mungkin karena rasa takut yang begitu besar. Dan selama 5 jam lebih mereka hanya menikmati bisu di dalam kamar yang penuh dengan tanda Tanya ?

Satu minggu setelah kejadian tersebut, pria itu datang lagi, persis pada jadwal Rosi Off. Dan pria itu hanya ingin ditemani Rosi dalam berdiam dan dalam kebisuan, karena keanehan ini hanya mereka pendam berdua. Begitu dan begitu seterusnya, berkali-kali pria itu datang untuk Rosi tanpa melakukan apa pun, hingga rasa penasaran itu datang.

“Apakah yang ingin Tuan ketahui dari kami ?” Tanya Rosi

Pria itu menatap Rosi lama,” apakah kamu sudah siap memecahkan kebisuan ini ?”

“Tuan sudah menghabiskan uang dan waktu yang cukup banyak, tanpa mendapatkan apa pun.”

“Saya hanya ingin mendapatkan seorang teman yang bisa dipercaya, yang bisa menyejukan, dan yang bisa menghilangkan penat hati saya. Meskipun hanya berdiam bersamamu, itu sudah cukup membantu saya”

“Apakah Tuan sedang patah hati ?” Tanya Rosi hati-hati.

Pria itu menggeleng, “Mungkin lebih dari itu.” Jawab Pria itu sambil menatap Rosi, tatapan pria itu kali ini begitu dalam dan … menusuk ke Jantung. “Saya hanya ingin mencoba melihat penderitaan orang lain, sehingga saya bisa merasakan bahwa penderitaan saya taka da apa apanya.”

“Penderitaan apa yang tengah Tuan rasakan, Tuan punya harta yang melipah, apa pun bisa Tuan beli. Tuan, punya wajah yang rupawan, wanita mana yang tak ingin dicintai oleh Tuan. Tuan punya kedudukan yang tinggi siapa pun akan hormat pada Tuan. Saya sudah sampaikan, Tuan pasti salah alamat.” Ujar Rosi, membalas tatapan itu dengan pasti. Kali ini taka da ketakutan baginya bersama Pria ini. Entah mengapa, selama beberapa kali pertemuan dengan diam berjam-jam lamanya dalam kamar berduaan tanpa melakukan apa pun, ada kepercayaan yang mulai menjalar, bahwa pria ini hanya membutuhkan seorang teman.

“Pernahkah engkau mencintai tamu-tamumu ?”

Rosi menggeleng bingung dengan pertanyaan itu.

“Apakah dari tamu-tamumu ada yang mencintaimu ?”

Kali ini Rosi tertawa dibuatnya, “Mana mungkin, mereka hanya membutuhkan tubuhku.”

Pria itu menelaah lebih dalam.

“Kalaupun ya, aku tak perduli.” Ujar Rosi lagi, ia membayangkan perjalanan percintaan yang pernah ia jalanani, cintanya pada teman SD, SMP, dan yang tak sempat di SMA. Cinta yang paling ia yakini adalah cinta ayah dan ibu yang tidak mungkin berkhianat, itu pun tak ia dapatkan sejak ia masih bayi merah. “Semakin lama aku mengenal Cinta, aku semakin tidak memahaminya.”

Pernyataan Rosi membuat Pria itu tertawa, lepas sekali. Ia tak lagi patung GWK yang seram dan yang menakutkan.

“Tuan pasti patah hati, kalau yah, betapa bodohnya perempuan itu.” Ujar Rosi seolah ingin memancing pria itu membicarakan penderitaannya, tetapi pria itu tidak bergeming. “Apakah Tuan patah hati ?”

Pria itu tidak menjawab,

“Pernahkah engkau bahagia ?” Tanya Pria itu

“Tuan belum menjawab pertanyaan saya” Sela Rosi

“Hari ini saya hanya ingin mengetahui semuanya tentang kamu. Karena saya yang membayar kamu.”

Rosi terdiam, “Bukankah Tuan ingin mencari teman berbagi ? Teman berbagi itu harus saling memberi dan menerima, kecuali … “ Rosi diam sejenak, menunggu respon pria itu.

“Kecuali apa ?”

“Kecuali memang Tuan menganggap saya adalah perempuan bayaran.” Ucap Rosi, “Yah… karena benar Tuan membayar saya.”

Wajah pria itu berubah, ingin sekali ia meralat ucapannya, kalimat ini serasa memberi jarak yang tak diinginkannya.

“Yah… Karena saya tidak bisa membayar, Tuan.”

“saya … saya menyesal, maafkan saya. Ternyata seorang kamu bisa tersinggung.”

“Sebagai seorang pelacur saya tidak tersinggung…”

“Saya menyesal !” Kalimat tegas itu seolah menyudahi ketersinggungan itu. Bila pria itu berujar dengan tegas, Rosi seperti melihat sosok yang lain, sosok seorang pemimpin itu seperti mengalir dalam darahnya. Siapakah sesungguhnya pria ini ?

Lama keduanya saling diam, memecahkan kesunyian dihati mereka masing-masing. Pria itu pun akhirnya mengalah,”Hari ini, biarkan saya bertanya tentang kamu, besok atau pada pertemuan kita berikutnya, saya biarkan kamu bertanya tentang saya.

“Rosi…” Panggilan itu merdu sekali, akh… Rosi menepis mimpinya dengan lucu. “aku ingin bertanya, pernahkah engkau bahagia.”

Rosi ingin mengingat-ingat, kapan ia bahagia, bahagia yang sesungguhnya bahagia. Karena kebahagiaan yang ia dapatkan selama ini sering menjadi semu ketika pada kenyataannya kebahagiaan itu sebentar sekali, karena kemudian dan begitu cepatnya kebahagiaan yang ada setelah itu hanyalah kekecewaan.

Apakah kebahagiaan saat menanti ibu pulang dari Malaysia, tapi kemudian batal dengan alasan tidak mendapat cuti. Ataukah kebahagiaan karena ditaksir cowok saat SD, atau kebahagiaan saat dibawa Anwar dengan sepedamotor gedenya jalan-jalan keliling Kampung dan kemudian ia ditipu mentah-mentah karena setelah itu ia justru dijual sama germo ?

“Aku bahagia ketika dibelikan uwak permen satu kantong besar, saat aku ulang tahun.” Jawab Rosi setelah mengingat ingat. Rosi pun sudah tak ingat kapan tepatnya kejadian itu. Rosi kecil dan sangat miskin, untuk mendapatkan permen saja pun sangat sulit, sebab ia anak yang berbeda, meski sekolah, mungkin ia lah saatu-satunya siswa yang tak pernah dibekali jajan. Bagaimana mungkin uwak memberikan jajan, untuk makan sehari-hari saja uwak sangat susah. Masih syukur uwak bisa membelikannya seragam sekolah, itu pun kredit 3 kali bayar.

“Mengapa kamu bahagia saat itu ? kebahagiaan sekantong permen.”

“Bagi seorang Rosi kecil dan miskin saat itu, kebahagiaan itu mungkin hanya sebatas permen. Dengan bangga bisa membaginya dengan teman sepermainan, Itu sudah cukup membahagiakan.”

“Dan kapan kamu merasa sangat bersedih, merasa sangat menderita…”

Rosi tertawa gamang…

“aku… aku tidak tahu. “ Mata Rosi menerawang, apa ia tidak pernah menderita ? Rosi pun ragu, , apa mungkin setiap saat sebenarnya ia menderita, tetapi ia tak merasakan itu lagi, Karena penderitaan itu senantiasa ia jalani dengan biasa.

“Kamu tidak tahu penderitaan apa itu ?”

“Kemiskinan membuat kami menderita, perpisahan dengan orang yang kami cintai ayah dan ibu, membuat aku menderita, meninggal uwak hingga aku hidup sendiri membuat aku menderita, abangku satu satunya terlibat dalam jaringan narkoba dan mati dalam penjara membuat aku menderita, terjebak dalam pelacuran oleh orang yang mengaku mencintaiku itu membuat aku menderita, melayani tamu dari lelaki satu ke lelaki lainnya, itu membuat aku menderita, tapi itu menjadi perjalanan yang biasa buatku. Di masa mana aku merasa sangat sedih, merasa sangat menderita, aku tidak tahu”

“Kapan terakhir kali kamu menangis…?”

“Akh sudahlah Tuan, aku semakin tidak tahu kea rah mana pembicaraan ini.”

Pria itu terdiam, ia menatap Rosi dengan penuh kasih. Tangan itu perlahan menyentuh rambut Rosi dan berhenti tepat di pipinya. Pipi ini tak pernah tersentuh oleh air mata. Air mata yang bisa melunakan hati. Hati Rosi mungkin sudah begitu lama tertempa menjadi hati yang membatu.

“Aku ingin tahu penderitaan kalian, agar aku tidak merasa menderita.” Ujar pria itu menjawab pertanyaan Rosi. “Yah… Penderitaan aku ini tidak ada apa apanya dari sekian banyak perjalanan penderitaan yang engkau alami.”

Penderitaan apakah yang tengah dirasakan pria ini, hingga ia begitu merasa terluka. Rosi sebenarnya merasa sangat penasaran, tetapi Rosi tak ingin bertanya, sampai pria ini memenuhi janjinya pada pertemuan selanjutnya membuka tabir dirinya yang membuat ia begitu menderita.

Yah… pria itu menangis, menangis persis di sudut tempat tidur dengan kaki yang menekuk, persis seperti seorang anak kecil yang ketakutan. Tangisan ini tak seorang pun yang tahu. Tengku Syah Abraham, keturunan terpandang di Negeri Malaysia menitikan air mata pada seorang pelacur jalanan.

“Saya tak pernah tahu, lakonan apa yang tengah dijalankan bundaku pada Ayah yang berbini delapan dan hidup dalam satu atap. Sebagai orang terpandang, tak seorang pun yang boleh menentang Ayah. Karena tidak tahan, bunda pun memilih keluar dari rumah. Ini sebuah aib bagi keluarga besar tengku. Saya dan adik saya adalah bagian dari perebutan atas perpisahan ini. Tetapi Bunda berhasil mendapatkan kami dan berlari mengucilkan diri. Rosi… kami pun menderita dengan kemiskinan, diantara harta yang melimpah dari Ayah. Dan sekarang ayah meminta Saya kembali kepada keluarga besar, karena dari delapan istri ayah, hanya Saya yang memiliki garis tahta, sayalah satu-satunya pewaris itu.

“Bukankah itu kemenangan bagi Tuan ?”

Pria itu, Tengku Syah Abraham, menggeleng dengan kesedihan yang sangat dalam.

“Saya tidak diperbolehkan serta merta membawa ibu.”

Deppp ! Jantung Rosi berdetak hebat. Mendengar kata ibu, seperti ada kerinduan yang terselip malu diantara benci di hati.

“Dan Saya melawan …”

“Okh… “ Decak kagum itu tak bisa Rosi sembunyikan,

“Tetapi Saya tak membaca sekenario lain. Akh… mengapa ? Seharusnya ini tidak saya lakukan, tetapi saya terlalu bodoh dan terlalu bernafsu untuk kembali mengangkat harkat dan martabat ibu sebagai istri seorang tengku. Tetapi ibu terlanjur dicap berkhianat pada keluarga.”

“Di manakah ibu Tuan kini ?”

Tengku Syeh Abraham tak menjawab. Dan tak pernah menjawab, karena setelah cerita panjang yang dituturkannya, Pria itu tak pernah lagi hadir dalam minggu minggu penantian Rosi. Memang Rosi seperti merasa kehilangan, dan merasa kesepian. Tetapi Rosi sudah terbiasa, terbiasa dengan kesedihan dan dikecewakan, sehingga itu tak perlu menjadi kegundahannya, meskipun Rosi masih tertanya Tanya.

Dan Rosi pun harus melupakannya, sebab ada hal lain yang harus diperjuangkan Rosi saat ini yang kini menjadi pesakitan karena dokter sudah memvonis dirinya terkena virus HIV. Rosi tak mengira, perlahan-lahan daya tahan tubuhnya seperti raib. Usianya terlalu muda untuk bertemu dengan virus itu, bayangan kematian siap tak siap harus dijalani Rosi. Sejak itu, meski tak ada yang tahu dengan penyakit Rosi, tapi melihat gejala yang dihadapi Rosi, Mami si mata duitan itu pun tak memberikan tamu lagi baginya. Mungkin, sebentar lagi centeng-centeng itu pun sudah siap mencampakan Rosi sebelum virusnya melebar lebih jauh.

Sampai di suatu malam, malam dalam kepasrahan yang paling tinggi untuk menapaki hidup, diantara penyakit yang kian menggerogotinya mempercepat kepergiannya menghadap sang pencipta. Sebuah mobil membawanya pergi entah kemana, tetapi di tempat itu ia dipertemukan dengan Tuan Tengku Syah Abraham.

“Kemana perginya Rosi yang cantik…” Tanya Tengku Syah Abraham

Rosi menatap pelan, gelengan dikepalanya pun lemah sekali, ia seakan tak berdaya, penyakit ini telah menggerogot dirinya begitu cepat. Tapi hari ini ia seperti mendapat kekuatan baru, bertemu dengan Tengku yang tidak berani ia rindukan.

“Mengapa Tuan membawa saya kemari, ini hanyalah hari-hari terakhir saya menikmati hidup dan mengakhiri penderitaan.” Ujar Rosi perlahan, nyaris tidak terdengar.

“Meninggalkan kamu, adalah kesalahan saya yang kedua dan tidak termaafkan.” Ujar Tengku Syah Abraham, “Seandainya saat itu saya berani mempertaruhkan hidup saya, martabat saya, saya masih bisa menyelamatkan kamu.”

Rosi tertawa rapuh, Pria ini yang sempat mengisi hari-hari kosong, bahkan mengisi hati yang kosong. Berbagi cerita penderitaan bersamanya ternyata menemukan kebahagiaan yang bermutasi dalam bentuk yang berbeda. Rosi sempat kehilangan, tapi bagi seorang pelacur datang dan perginya seorang pria itu sudah biasa, taka da alasan untuk mencarinya.

Di tempat itu, ditempat keluarga besar Tengku memproklamirkan keinginannya untuk menikah dengan wanita pilihan hatinya, wanita yang selama ini menjadi spirit hidupnya selain ibu dan adiknya. Rosi, yah perempuan itu adalah Rosi.

“Untuk apa Tuan menikahi saya.” Ujar Rosi dengan suara yang semakin parau.

“Agar aku halal memelukmu.” Jawab Tengku pasti

Rosi menatap tanpa sepatah kalimatpun yang bisa keluar dari bibirnya yang kering. Air matanya telah menetes beberapa kali dari sudut matanya. Untuk memeluk Rosi yang berpuluh-puluh lelaki mengecap tubuhnya.

“Agar Rosi bisa menyandarkan semua penderitaan dibahu saya.

“Tubuh ini terlalu hina bersama Tuan, saya tak ingin Tuan ikut Hina bersamanya.”

“Rosi… bukankah Tuhan tidak pernah melihat hina ummatnya ?”

Hari itu Tuan Tengku Syah Abraham memeluk tubuh kerempeng Rosi. Air mata itu seperti tumpahan penderitaan yang selama ini tak pernah diungkap. Sebuah penderitaan bertahun tahun menanti kasih sayang dari kedua orang tua yang digilas oleh kemiskinan dan keangkuhan negeri yang miskin. Penderitaan di sarang pelacuran selama bertahun-tahun sejak ia seharusnya merasakan kemerdekaan menjadi anak-anak tanpa pernah tersentuh oleh aparat.

“Rosi… “ Bisik Tuan Tengku Syah Abraham, “Rosi … Rosi …”

“Ya Tuan… “ Jawab Rosi, masih dalam dekapan suaminya.

“Bisakah kau menjawab, saat kapan kau paling bahagia.”

Rosi tersenyum, pertanyaan itu mengingatkannya pertanyaan yang dulu sulit dijawab olehnya.

“Saat sekarang… “ Jawab Rosi… “Saat aku … “ Rosi terbata bata, nafasnya tersenggal senggal seolah tak sanggup berucap, tapi Tengku begitu sabar menunggu jawaban itu “berada dalam pelukan orang yang aku cintai dan mencinatiku, disaat aku … tidak bisa memberikan apa-apa padanya.”

Tengku menggeleng, “Kamu tahu, hadirmu dalam kehidupan saya, membuat saya bisa kuat dan bertahan hingga saat ini.”

“Tapi aku akan pergi … “ suara parau itu memperkuat tangisan hati Rosi

Tengku meletakan tangan Rosi di dadanya, “Kamu tetap ada di sini.”

Rosi mengangguk-angguk.

“Rosi… Rosi… “ Tengku memanggilnya dengan berbisik, tapi mata Rosi masih tertutup rapat, “Rosi… Rosi … “

“Ya Tuan ?” suara Rosi masih menjawab perlahan, matanya masih terpejam, sahutan itu membuat Tengku berlega hati.

“Katakan pada saya, kebahagiaan apa lagi yang ingin kamu dapatkan ?”

Rosi tak menjawab, hari ini ia begitu bahagia, kebahagiaan ini saja telah cukup. Yah… memang, ada kebahagiaan yang selalu berhasil ia sembunyikan diantara kebenciannya. “Aku ingin dipeluk ibu. Aku ingin bertemu Rosul” Jerit Rosi dalam hatinya. Sebuah jeritan terakhir disaat terakhir, terakhir ia menghembuskan nafasnya terakhir.

 

Komentar Via Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *