Home / OPINI / Biografi Taralamsyah Saragih : Jejak Sepi Seorang Komponis Legendaris

Biografi Taralamsyah Saragih : Jejak Sepi Seorang Komponis Legendaris

taralamsyah

PEMATANGSIANTAR-Salah satu maestro seni musik milik bangsa ini adalah Taralamsyah Saragih Garingging. Putra Simalungun yang lahir pada 18 Agustus 1918 di Rumah Bolon, Pematang Raya, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Dia lahir dengan talenta besar yang kemudian diasah oleh waktu dan ruang, di mana dia hidup dan berkarya.

Jejaknya begitu sepi, meski dia melahirkan begitu banyak karya berkelas dan dikenang sepanjang zaman. Sesungguhnya, dia sosok pelampau zaman, bahkan jauh setelah dia wafat 1993 di Jambi, sebuah provinsi pelabuhan terakhirnya. Pelabuhan, sebagai garis pemuncak yang dia arungi dari tanah leluhurnya, Simalungun.

Sang legendaris pelahir karya adiluhung sekelas lagu “Serma Dengan Dengan”, “Eta Mangalap Boru” dan “Sitalasari”, ini nyaris terlupakan sebagai putra terbaik Simalungun yang pernah lahir di kolong jagad ini. Karena, tak banyak yang tahu, siapa sosok di balik berbagai lagu hebat yang melintasi zaman itu. Lagu-lagunya, lebih terkenal di banding sosok pembuat lagu itu sendiri.

Untunglah, datang seorang putra Simalungun lain, sosok muda berkelas, seorang wartawan di Koran KOMPAS, Simon Saragih, terketuk jiwa dan hatinya. Melihat betapa ‘mutiara’ bernama Taralamsyah Saragih Garingging dengan segala karya adiluhungnya, nyaris tenggelam di dasar lautan zaman. Berawal dari idenya, dia coba ungkit dan angkat kembali jejak Taralamsyah.

Dengan spirit luar biasa, putra Simalungun kelahiran Haranggaol ini, mulai menulis tentang siapa sesungguhnya Taralamsyah Saragih Garingging. Bermodalkan semangat, tanpa dukungan dana dari siapapun, Simon dibantu sejumlah pegiat budaya seperti Sultan Saragih di Pematangsiantar, keluarga Taralamsyah di Jakarta, serta sejumlah koresponden di Jambi, Simalungun dan Pematangsiantar, kisah sosok Taralamsyah Saragih Garingging ditulis, pengerjaannya dilakukan awal tahun 2014 lalu.

Di tengah aktifitas padatnya sebagai jurnalis, Simon dibantu sejumlah penulis lainnya, menyelesaikan penulisan dan penyusunan buku tentang Taralamsyah Saragih Garingging, pada Oktober 2014.  Lahir dari sebuah diskusi dan pergulatan panjang, Simon mengawali tulisan buku ini dengan menyebut  Taralamsyah, sebagai Melodi Yang Hilang. Mengutip dari bagian tulisan ini Simon bilang, bagaikan lolongan meringkih tak terdengar, demikianlah tangisan sang begawan musik, Taralamsyah.  Dia yang telah wafat tahun 1993 lalu, hanya tinggal kenangan yang nyaris tak terdengar lagi jasa besarnya….

Ini adalah gugatan besar! Betapa kita, Simalungun masih belum juga menyadari bahwa kita belum sepenuhnya menegakkan diri sebagai suku bangsa yang besar dengan segala kekayaan budaya, termasuk seni musiknya. Seorang maestro bahkan nyaris kita lupakan.

Tak ayal, buku yang ditulis seorang Simon ini, patut menjadi ‘tamparan’ sekaligus motivasi bagi kita, untuk melongok jauh ke dalam sanubari terdalam, sudah seperti apa Simalungun punya jati diri.

Buku setebal 310 halaman, ini pantas menjadi referensi bagi warga Simalungun dan siapa saja yang tertarik dengan budaya Simalungun. Tak tanggung, selain penulisnya sekaliber wartawan senior di harian ternama di negeri ini, covernya juga dikerjakan seorang karikaturis kelas wahid bernama Lim Bun Cai, karikaturis Koran KOMPAS.

Meski belum bisa disebut paripurna, tapi penulisan buku ini setidaknya bisa mengguratkan perjalanan, permenungan dan kontemplasi sosok maestro putra Simalungun, cermin kita sebagai putra Habonaron Do Bona, dengan referensi yang terbatas. Ditulis dalam bentuk kompilasi, dengan berbagai sumbangan penulis lainnya, biografi ini memiliki roh adiluhung bernama Taralamsyah Saragih Garingging. Itu yang penting.

Buku Taralamsyah Saragih, Jejak Sepi Seorang Komponis Legendaris, sebanyak 10 bab, dipersembahkan kepada publik sebagai bentuk ketulusan menegakkan Simalungun sebagai suku bangsa besar. Lahir dari semangat relawan, disponsori Penerbit Bina Media Perintis, Medan, buku akan dilaunching pada Minggu, 14 Desember 2014 di Hotel Grand Palm, Pematangsiantar. Adalah Rikanson Jutamardi Purba, Sultan Saragih dan Tigor Munthe, trio penggerak kegiatan.

Dalam ajang launching, tim kecil ini juga akan gelar bedah buku di saat bersamaan. Simon Saragih sebagai penulis, akan menjadi pembicara, dan testimoni putra sang maestro, Edy Taralamsyah serta Sapna Sitopu, dosen Etnomusikologi USU Medan yang juga dikenal sebagai penyanyi “Inggou” Simalungun, akan membuka tabir isi dan perjalanan sang begawan musik.

Setidaknya, keterkejutan seorang Rospita Sitorus, Wakil Ketua DPRD Simalungun dari PDI Perjuangan Simalungun, bahwa penulis lagu “Serma Dengan Dengan” adalah Taralamsyah Saragih Garingging, tak lagi terulang di masa mendatang, terutama bagi warga Simalungun seluruhnya.

“Sejak kecil saya sudah sering mendengar dan menyanyikan lagu itu. Tapi baru kali ini saya tahu jika penulis lagunya adalah Taralamsyah Saragih Garingging. Kita dukung launching dan bedah buku sang legendaris itu,” tutur Rospita di ujung sore, Sabtu, 6 Desember 2014.

 

Komentar Via Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *