Home / CERPEN / Bungaku di Penghujung Waktu

Bungaku di Penghujung Waktu

Oleh : Rika Yoesz

Bagaimana mungkin aku berani menggapaimu bunga, sedang aku tak tahu apakah aku mampu menyiram batangmu dengan air kehidupan agar kau tetap bisa mekar dan orang-orang yang melihatmu bisa ikut tersenyum. Dan tak mungkin kuungkap keberanianku memilikimu, sedang aku tahu aku tak memiliki apa apa yang bisa aku banggakan menjadi persembahanku buatmu. Aku tak lain hanyalah seonggok tubuh yang kian hari kian layu yang tak mampu menatap matahari kedepan seperti ketidakmampuan kaki ini melangkah.

Dulu, aku pernah jengkel sekali bertemu dengan gadis sepertimu, yang sombong dan angkuh. Hmmm… seorang phisikolog yang gagal, cengeng dan berlagu. Sampai akhirnya kau harus bertemu denganku, seorang pasien yang Bengal yang mengerti maksud dan tujuanmu datang ke komunitas kami, hmm tak lebih hanya untuk sebuah sekripsi dan hasil penelitian, yah, kami hanyalah objek buatmu.

“Nama abang siapa yah ?”

“Buat apa kau mau tahu kami, ,, “

“nama saya Mimi, ehmm… lengkapnya Minda Maya Sari.” Ucapnya tetap ramah, “Kalau abang, bisa dipanggil siapa yah ?”

“Sudahlah, saya bukan orang yang tepat untuk kamu wawancarai untuk bahan sekripsimu.”

“Saya … “

“Prak !” Aku meninggalkan seraya mencampakkan kursi yang aku duduki. Aku melihat wajahnya yang memerah, tersinggung, marah. Aku berhasil membuat si manis itu mencemberutkan wajahnya. Serta merta ia meninggalkan rumah klinis dengan sengaja menginjak pedal gas kuat.

Tapi esoknya gadis jelita itu datang lagi, kali ini ia tidak sendiri, ia datang bersama seorang dosen pembimbing. Dengan masih memasang wajah tak enak ia dengan terpaksa menuruti datang bersama dosennya.

“Halo selamat siang.”

Hmmm… nada ucapannya sumbang, terasa sekali ia masih menyisahkan kesal padaku dengan kejadian kemarin. Ia hanya berusaha bermanis-manis, karena tengah bersama dosen pembimbing, dan beban tanggungjawab akademik yang harus ia tuntaskan.

“Kami meminta maaf sebelumnya atas kehadiran kami di sini, jika langkah adik2 mahasiswa tidak berkenan di hati,” Begitu dosen itu memulai pertemuannya.

“Maaf ibu…” Celutukku langsung ke pokok persoalan,” saya adalah orang yang ibu maksud. Silahkan datang ke Rumah klinis, tapi saya bukan orang yang suka menjadi objek penelitian.”

Dan aku langsung pergi, tapi entah mengapa, si mata indah itu, Minda Maya Sari justru menjadikan aku sebagai sasaran objek penelitiannya.

“Jangan berharap banyak informasi dari aku, karena kau tak akan mendapatkan apa apa dariku.” ancamku waktu itu, “Jika aku menjadi objek penelitianmu, alamat skripsimu tak akan pernah selesai.”

Aku pernah membuat Mimi menangis dan aku memergokinya saat menyeka air mata, meski sebenarnya ia mulai membiasakan diri dengan kekasaran bicaraku, tetapi ia cepat menyekanya ketika kepergok olehku, aku pun tak mau menanyakan sebabnya, sebab gadis manja itu pasti akan bertambah cengeng. Tapi herannya, ia mulai rajin datang ke klinis, hamper setiap hari bahkan.Lama kelamaan si cengeng itu malah nekat menginap di rumah klinis khususnya bila Mbak Hera menginap di klinis.

Tapi waktu itu, saat tengah malam usai acara diskusi di klinis, saat semuanya sudah hamper lelap, Mbak Hera harus pulang ke rumah, mendadak anaknya yang kecil sakit. Mbak Hera meminta supaya Mimi tetap diklinis karena kebetulan Siska dan Dwi mahasiswa yang biasa stey di klinis sedang riset ke luar kota. Jadilah Mimi menjaga di klinis karena ada 5 Orang adik-adik yang menginap dari luar kota karena dalam perawatan jalan.

“Tapi mbak…” Aku mendengar keraguan Mimi saat itu.

“Nggak mengapa, adik adik dalam kondisi yang baik kok. Yah, lagian masih Ada Hendra.” Mbak Hera meyakinkan Mimi. Aku tahu Mimi meragukan kemampuanku menjaga adik-adik, padahal kalau tidak ada siapa siapa di klinis ini pun aku biasa menjadi pengawal adik-adik. Dan memang, keraguan mimi dan kepongahanku malam itu terbukti. Malam itu, aku tak mengira bila aku begitu drop, mungkin aku kelelahan, selain sibuk mengambil gambar pada sesi acara diskusi aku juga memberikan hiburan dengan bermain gitar dan membacakan puisi puisiku, atau mungkin aku terlalu bahagia banyak tamu dari luar yang sempat meneteskan air mata saat aku nyanyikan lagu “sepiku dikeramaianmu”

Malam itu, karena sakitku tak tertahankan, rintihku pun begitu kuat hingga terdengar oleh Mimi. Padahal aku tak pernah ingin merepotkan siapa pun apa lagi merepotkan gadis cengeng sepertimu. Saat aku melangkah dan ingin mengambil butiran obat yang tak jauh dari tidurku, aku terjatuh terjerembab, yah… kaki ini lemah dan lesu tak dapat digerakan. Malam itu aku benar-benar membuat Mimi panic, dan si cengeng itu sambil memapahku masih kudengar isak tangisnya. Satu hari itu, aku menjadi pasiennya, dan berhasil membuat Mimi menjadi orang yang super sibuk, karena baru esok harinyalah voluntir klinis berdatangan. Kalau tak ada Mimi, aku tak tahu entah jadi apa aku ini. Si pemilik tubuh krempeng itu memapahku dan tangannya yang halus memasukan butiran obat dan suplemen. Bagaimana mungkin aku bisa memanggilnya si cengeng dan si angkuh ?

Bunga… seminggu setelah itu engkau tak hadir. Rinduku begitu menggebu hanya ingin melihat air muka yang marah karena bengalku. Hari itu aku berjanji, tak lagi memberikanmu rasa benci. Datanglah dan datanglah pintaku tiada henti. Dan kau datang membawa kabar gembira tapi menakutkan buatku.

Mbak Hera memelukmu memberi selamat, Nilai A telah kau dapat dalam sidang mempertahankan sekripsi tentang phisikologis penderita leokimia dan pendekatan kejiwaan. Kau pantas mendapatkannya. Dan mulai hari ini gelar cengeng itu telah aku cabut, kegigihanmu berada di klinis ini dengan ragam sifat, tingkah dan laku pasien leukemia, telah menempahmu menjadi orang yang kuat.

“Bang Hendra… “ Akh… waktu itu kau berhasil membuat rasa kikuk di hatiku, entah mengapa, entah mengapa. Kau mendekati kursi rodaku dan berjongkok persis dekat dengan ku mensejajarkan tubuhmu dengan aku “Terimkasih yah, terimakasih banyak.”

“Untuk apa, harusnya aku yang berterima kasih untuk kebaikanmu malam itu.”

Aku melihat Mbak Hera senyum senyum melihat kelakuanku, mungkin tak biasanya, si Bengal tua yang sudah sangat berumur ini mulai takluk kali yah.

“Terimakasih untuk ini.” Mimi mengeluarkan buku diary usang milikku, “Aku telah mencurinya melalui mbak Hera.” Ujar Mimi licik.

“Siapa bilang kau mencurinya ?” Aku berusaha tertawa, “setahun yang lalu aku sudah mendedikasikanya kepada mbak Hera untuk diberikan kepada khalayak umum.”

Buku Diari itu aku tulis sejak aku mulai masuk kuliah Ilmu Komunikasi , saat dimana aku mulai mengetahui bahwa di dalam tubuhku ada virus yang mematikan. Buku itu adalah teman hidupku berkeluh kesah melewati jatuh bangunnya aku dalam penerimaan dari kekuasaan sang Khalik atas penyakit sekaligus ilmu iklasku dalam penerimaanku dan menyadari kekuasaan sang Illahi. Di Buku itu juga banyak tulisan tulisanku dalam mengenali penyakit leokimia dan solusi mengatasinya. Ada juga tulisan tulisan motivasi, hidup berdampingan bersama penderita leokimia. Tulisan itu aku buat selama berada dalam rumah klinis, hidup bersama adik adik yang diusianya masih sangat muda dan belia, melewatinya dengan kebahagiaan biasa seperti orang sehat lainnya. Dan melewati kematian dengan kesahajaan, dan saling memberikan cinta sesama penderita.

Aku melihat Mimi merengut, tapi perengutannya kali ini terlihat manja, entahlah saat itu aku merasakan sesuatu yang berbeda, sesuatu getaran getaran halus yang tak pernah aku pelihara pada seorang gadis, sedangkan hari ini aku ingin memilikinya, meski aku tahu getaran halus itu tak boleh aku biarkan merajai hatiku hingga harus memiliki hatinya.

“Kau curang, bang.” Ujar Mimi sambil berdiri dan melengos duduk merapat dekat dengan mbak Hera, kelihatannya puas sekali Mbak Hera menelanjangi lakonanku, ia seperti membaca getaran halus yang aku miliki, akh biarlah ! “Bukannya dulu kau bilang tak akan mendapatkan informasi apa pun dari mu.”

“Yah, dariku. Tapi bukan dari bukuku.” Hendra tertawa. “Okh ya… aku ingin memperlihatkanmu blog pribadiku.” Aku mencoba bangkit perlahan dari kursi rodaku. Tiba-tiba kau bangkit dan menyuruhku tetap duduk diam di kursiku. “Tidak, aku sudah merasa baikan. Duduk berlama-lama dikursi roda akan membuatku mati karya.”

“Tidak.Tidak. Hari ini aku akan menjadi pelayan istimewamu.” Mimi bersikeras, dan entah mengapa, aku tak lagi berniat melawannya. Dulu pertama kali ia ingin membantuku, hanya mengambilkan segelas air minum, gelas pemberiannya itu aku campakan, itulah pertama kali aku melihat ia sesungukan, hingga kusebut ia si cengeng. Hari ini aku harus mengakui keperkasaanku terlawankan oleh kelembutannya. Yah, aku ingin dimanja olehmu. “anggap saja ini adalah ucapan terimakasihku karena mu aku bisa mendapat nilai A.” Hmmm… ternyata ia tak lagi cengeng, tetapi sudah berubah menjadi bidadari yang cerewet.

Bunga… hari itu bisa aku pastikan aku jatuh cinta padamu. Cinta yang aku sebut dalam diam. Yang memujimu hanya sebatas kata di hatiku. Tentang parasmu yang cantik karena dihiasi hati yang tulus. Getaran yang aku pelihara dan terus aku pelihara meski aku tak akan berani menjeratnya. Besok atau lusa, kau mungkin tak akan kembali, karena tugas akademikmu sudah berakhir. Kau sudah mendapat gelar kesarjanaan, dan akan mendapatkan posisi empuk di tempat dimana engkau mau, sebab ayahmu adalah seorang pejabat tinggi lagi kaya. Sedangkan kami hanyalah kumpulan orang-orang kuat dan harus kuat dari rasa cinta bersama dari sesame penderita. Dan kami tidak boleh cengeng, karena cengeng hanya akan mempercepat kami meninggalkan penderitaan tanpa sempat bersyukur, tanpa sempat merasakan betapa hidup ini indah bersama kanker.

Dan hidup akan terus berjalan, dugaanku memang tidak salah, Mimi hanyalah bagian dari masa lalu kami, yang memberikan rasa cinta sesaat, seperti orang-orang sebelumnya, yang menaruh rasa penasaran apa itu leokimia, bagaimana orang orang penderita melewati hari-harinya dengan setiap saat dihadapkan pada masa, kapan akan dipanggil oleh sang Khalik. Tetapi aku masih bersyukur, sesekali aku masih melihat komen-komen Mimi di dalam tulisanku di facebook. Tentu saja komen yang memberikan motivasi standart seperti yang biasa dilakukan oleh pengagum karyaku. “tetap semangat abang aku yang hebat, karyamu selalu memenuhi ruang hatiku.” Atau sebuah kata manis yang biasa juga diberikan orang lain, “Bang Hen, memang mantef Oye.” Atau sebuah komentar balasan yang sok puitis, padahal aku tahu sekali kau tak pandai mengukir kata indah, “Duuuh, karya bang Hen membuat hatiku membelenggu. Seandainya puisi itu buatku, kan kusirami hatiku untukmu.” Padahal, sumpah mati, aku membaca komenmu itu berkali-kali, dan semakin aku rasakan begitu aku merasuk hati, walau aku tak pernah membalas komenmu secara khusus, cukuplah ia aku balas dalam catatan dibilik hatiku.

Suatu hari aku membaca karya tulisanmu di sebuah media massa, tulisan ringkas yang engkau buat dari sekripsimu tentang kami dengan bumbu gaya penulisan yang engkau catut dalam catatan-catatan diariku. Banyak sekali yang mengagumi karyamu, termasuk aku. Tulisanmu begitu menyentuh, terasa sekali kau menulisnya dengan hati. Tetapi aku hanya bisa membacanya dalam ruang terapi yang senyap, dengan kemampuan penglihatanku yang mulai meredup, tetapi karya itu cukuplah lebih dari mendapatkan suplemen kehidupan pemberi doping penyemangat, akulah gurumu menulis itu. Aku menemukan kepuasan tersendiri, mendapatkan siswa sepertimu.

“Menulis itu harus dengan hati, sehingga relung relung disetiap sudut jiwamu turut merasakannya, jika tidak demikian, tulisan itu hanyalah tulisan kosong. Ia harus mengalir seperti peredaran darah yang mengalir menjadi sumber kehidupan.” Komentarku ketika kau memperlihatkan hasil karya tulismu setelah seharian penuh belajar membuat tulisan, hasilnya kacau ! tapi waktu itu kau tak lagi menangis, kau sudah jinak.

Malam ini, aku ingin memasrakan diri pada sang pencipta, yang dengan kekuasaannya pulalah ia mengambil kembali ciptaannya. Aku hanyalah hamba, yang telah menjalani setiap detik langkah yang ia gariskan. Mudah-mudahan dari perjalanan ini aku termasuk hamba yang lulus ujian dengan djikir kepasrahan dan rasa syukur. Dalam kesamar-samaranku, aku melihat ibu menyambutku dengan kursi rodanya yang telah diwariskannya terlebih dahulu padaku. Ia pergi dengan senyum manis yang terindah sepuluh tahun yang silam dalam derita leokimia juga. Ia terlihat bahagia dalam penghidupan yang kekal meninggalkan dunia yang pana.

Setetes air mata ditelapak tangan ini memaksaku bangun dari tidur yang mungkin telah aku lakukan berhari-hari karena raga ini memang sudah tak mampu. Aku tak melihat siapa siapa di sekelilingku, kecuali seorang gadis tertidur lelap dalam penjagaannya sambil menggenggam tanganku. Wajahnya tertutup jilbab putih. Meski tanpa melihat wajahnya pun aku merasakan ini kamu, bungaku. Kau hadir disampingku disaat-saat terakhir aku ingin pamit pada semua, berjalan lebih dahulu menjumpai sang penciptaku. Tolong kau jaga adik-adikku dan kehidupan ini agar kita tetap istikomah melewati hidup menyadari bahwa raga ini hanyalah titipan untuk berbuat dan berbuat kebaikan.

Ingin sekali membelaimu, tapi tanpa membelaimu pun engkau terjaga, merasakan ada keajaiban sebuah kehidupan.

“aku datang…” Ujarnya parau, air matanya sudah berlinang, berkali-kali menciumi telapak tanganku yang tak lagi bertenaga. “maafkan aku…”

Aku ingin sekali menjawabnya dengan kelakar “ Untuk apa ? untuk buku usang yang kau curi?” tapi mulut ini tak sanggup berkata-kata, lemah menyelungsup hingga keseluruh tubuh. Aku tak menyalahi Tuhan, inilah batasku. Melihatmu saja didetik hariku dijumpakan dengan gadis pujaanku betapa ini kebahagiaan yang luar biasa.

“aku ingin sekali datang, tapi aku takut kau marah padaku, karena terlalu lama meninggalkan kalian.” Ujarnya sesungukan. Duh, bungaku. Dalam ketakberdayaanku kau begitu menderita, apakah begitu berartinya aku bagimu. Aku… ingin sekali mengomelimu, karena aku bahagia. Tapi aku hanya mampu tersenyum lemah, itu pun sudah berat dilakukan oleh otot ini.

“Kau kemana saja bungaku ?” tanyaku yang tak keluar menjadi kalimat, tetapi hanya bercokol dikerongkongan.

“Aku di Jakarta bersama Bunda, mengantarkannya berobat untuk waktu yang lama.” Jawabnya seolah tahu pertanyaanku. “Aku merindukanmu, merindukan kalian. Setiap hari, setiap hari aku mengingatmu, sudahkah cuci darah, sudahkah minum obat, sudahkah diberi suplemen, sudahkah membuat puisi… “ kau menyerocos tiada henti, kau membuktikan kerinduan itu.

“Hei… bagaimana dengan bungamu ?” tanyanya tiba-tiba. “ Iya, aku tahu dari blogmu. Belakangan kau sering menuliskan tentang Bunga.”

“Bunga itu adalah …”

“Apa ia sudah menjengukmu ?”

Aku hanya bisa mengangguk

“Aku ingin sekali berjumpa dengannya.”

Aku mengangguk lagi

“Dia pasti cantik, dia pasti istimewa. Kau tahu, betapa aku cemburu padanya. Ia telah mencurimu dari aku. Yah, tapi ini kesalahanku yang membiarkanmu sendiri”

Yah, dia pasti istimewa, sangat istimewa. Dan kuharap ia juga bahagia seperti kebahagiaanku hari ini melepaskan semua. Dan kuharap kau pun tahu siapa bunga hatiku yang selama ini telah aku pendam dan kubawa bersama kematianku. Bunga… kuharap engkau tetap terjaga dengan baikan dan ketulusan hatimu, bertemu dengan pasien leokimia seperti aku.

 

Komentar Via Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *