Home / OPINI / Partai Politik Vs Perwiritan

Partai Politik Vs Perwiritan

Merebut Pundi 1 Triliun

Judul ini bukan sebuah penghinaan. Ini hanya sebuah pembandingan antara sebuah organisasi maha besar bernama partai politik dengan sebuah organisasi unyil bernama perwiritan. Tulisan ini terinspirasi manakala banyak yang merasa tergelitik tentang wacana yang diberikan oleh mentri dalam negri untuk memberikan anggaran bagi partai politik sebesar 1 Triliun pertahun sesuai dengan perolehan suara partai saat pemilu. Yah, tergelitik di tengah kemiskinan dan persoalan keuangan masyarakat mulai menunjukan ketidakstabilannya, yang dilihat dari nilai tukar rupiah ke dolar melonjak, gas elpiji menghilang, naiknya TDL listrik dan… jeritan di daerah dengan harga air minum bak air isi ulang. Yah, tergelitik ditengah masyarakat masih meragukan kinerja mereka yang duduk di dewan belum memberikan yang terbaik untuk rakyat , tergelitik dengan jumlah yang fantastis, dan benar-benar tergelitik saat urusan kesehatan untuk masyarakat miskin di BPJS masih morat marit dan mau akan dinaikan.

Mengapa lantas dibadingkan dengan organisasi perwiritan ? Nah loh kecil amat yah, organisasi perwiritan yang nota benenya hanya bisa dibentuk dengan kumpulan orang – orang setingkat gang rumah kok lah yah dibandingkan dengan organisasi setingkat nasional yang memiliki struktur organisasi handal, lengkap dengan divisi-divisi pembangunan, memiliki visi dan misi 5 sampai 10 tahun ke depan, memiliki anggota yang terstruktur dari DPP, DPW, DPD hingga cabang dan ranting sampai daunnya pun ada. Tak sebandinglah dengan anggota perwiritan yang hanya berjumlah 100 sampai 200 Orang.

Jadi, wajar saja bila organisasi yang besar dan mengindonesia ini membutuhkan pembiayaan yang besar pula, mengorganisir hingga ke tingkat yang paling bawah. Harga 1 Triliun rupiah itu,konon menurut Tjahjo Kumolo, pembiayaan parpol oleh negara ini bisa menekan tindak pidana korupsi yang dilakukan para politikus. Ucapannya yang secara tidak langsung mengamini banyaknya politikus yang melakukan tindak pidana korupsi meskipun sudah bergaji besar. Alasannya lagi Pemerintah juga bisa melakukan pengawasan atas pengelolaan anggaran tersebut melalui Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). kalau ada oknum partai yang korupsi, misalnya, enggak boleh ikut pemilu dan sebagainya. Tentu saja, dan berani taruhan, wacana briliyan ini akan serta merta berjalan mulus di permusyawarahan DPR tanpa cela. Lah wong mereka yang akan menikmatinya.

Mari kita berbicara tentang gerakan organisasi perwiritan yang sederhana dan mengkampung ini, lebih dari sekedar pembangunan kearifan local dalam memberikan sumbangsihnya pada Negara ini membentuk insan yang peduli dengan kehidupan masyarakat. Organisasi perwiritan ini menjalankan roda organisasinya dengan konsekwen, benar-benar swadaya. Ketua, sekretaris, bendahara dan pengurus lainnya tidak pernah mendapat keuntungan materi dari mengelola organisasi tetapi mereka tetap bekerja dan anggotanya cukup loyal. Ini bisa dibuktikan dengan kehadiran anggota dalam pertemuan setiap minggunya. Kalau ada yang tidak percaya silahkan cek sendiri sebuah perwiritan di kampongnya masing-masing. Mengaji secara rutin, membaca yasinan, tartil, tahlil dan doa secara rutin. Yang hebatnya lagi, semua anggota membayar iyuran dengan tertib setiap bulannya. Mereka cukup transparan, setiap uang keluar dan uang masuk tercatat dengan rapi dengan tulisan tangan yang sesekali ditandai dengan coretan. Organisasi ini juga memiliki kepedulian terhadap sesama anggota, iyuran yang dikumpulkan setiap bulannya itu termasuk untuk membejuk rekan yang sakit, kemalangan, atau kendurian seperti kelahiran. Oh iya, ada juga sebagian organisasi perwiritan ini menggalang infak untuk memberikan bantuan sukarela kepada anak yatim piatu di lingkungan. Untuk menggerakan roda organisasi ini, informasi-informasi penting tidak pernah lupa disampaikan kepada anggota, sehingga anggota organisasi tidak pernah kehilangan informasi kecuali yang jarang datang. Untuk menambah wawasan, sebulan sekali ada juga yang menghadirkan seorang guru.

Pertanyaannya adalah adakah roda organisasi ini berjalan dan benar-benar berjalan di partai politik. Bukankah sebuah organisasi itu memang harus dihidupkan oleh anggotanya, bukan malah netek dari Negara. Apa lagi sebuah organisasi besar sebesar organisasi politik, yang telah memiliki anggota anggota besar yang selayaknya bisa memberikan sumbangannya kepada organisasi karena dia juga dibesarkan oleh organisasi.

Pertanyaannya lagi, adakah organisasi sebesar partai politik ini melaksanakan kegiatannya kepada anggota secara rutin, karena sehari-harinya, rumah rakyat itu hanya ditinggali oleh penjaga dan penerima telepon. Tak pernah kita mendengar ada seminar atau sekelas workshop dan pelatihan yang digagas oleh partai politik. kecuali kantor partai politik hanya ramai mana kala pendaftaran para caleg saja. Jangankan mengelar sebuah acara, untuk diundang dalam perhelatan saja harus milih-milih, acara mana yang cukup strategis untuk kampanye, “wah capek deh” kata berbi.

Dan lagi-lagi pertanyaannya adalah, adakah partai politik memberikan perhatiannya kepada rakyat yang membutuhkan perhatian, semisal sumbangan pemikiran kepada masyarakat tentang pendidikan politik, turun saat masyarakat tanah karo tertimpa musibah gunung Sinabung, berempati saat kebakaran, ouf maaf,,, tetapi bukan dalam kerangka sedang ramai menjelang pemilu yah, sis ?

Kalau hari ini banyak masyarakat yang tergelitik bahkan marah dan media social menjadi lampiasan kekecewaan atas wacana yang dulu juga sempat digelontorkan, itu bukan karena masyarakat tidak setuju dengan alasan budgeting, bahwa saat ini keuangan Negara dalam keadaan devisit dan sejumlah rencana anggaran pembangunan harus dipotong, tetapi alasan itu adalah lebih dikarenakan Organisasi besar Partai Politik dinegeri kita belum cukup mendewasakan diri tentang pengelolaan organisasi. Partai politik tak lebih hanya perebutan kekuasaan semata.Orang berpolitik lebih banyak besar-besar di jalan, sehingga banyak diantaranya terpaksa nyasar alias salah jalan.

Nah, masih pantaskah mereka diberi anggaran 1 Triliun ? kalau pertanyaan ini nantinya dibahas dalam siding yang terhormat, pastilah menemukan jalan mulus, adakah penolakan ? sekarang hanya malu-malu kucing menunggu respon. Tetapi kalo ini dipertanyakan pada masyarakat, pastilah menolaknya, wong rumput yangbergoyang saja bisa menilai, lebih baik diberikan pada perwiritan, yang jelas-jelas lebih bermanfaat memperbaiki akidah.

Komentar Via Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *