Home / KESEHATAN / Penting, Masyarakat Paham Bencana

Penting, Masyarakat Paham Bencana

tus

JAKARTA | Masyarakat perlu memahami kondisi geografi Indonesia yang rawan bencana alam. Pemahaman ini merupakan bekal sangat penting ketika masyarakat ingin hidup berdampingan dan bersahabat dengan alam. Menjaga kelestarian dan meminimalisasi kegiatan di zona-zona berbahaya menjadi langkah yang harus ditempuh agar tercipta keselarasan hidup dengan lingkungan.

Peristiwa tanah longsor di Dusun Jemblung, Karangkobar, Banjarnegara, Jawa Tengah, pada 12 Desember lalu mungkin dapat terhindarkan apabila masyarakat dan pemerintah daerah setempat memahami kondisi geografi wilayahnya.

Dusun yang berada di Bukit Telogolele itu berada di kemiringan hingga 60 derajat. Lahan di sekitarnya dipakai untuk usaha pertanian dengan tanaman palawija yang membuat tanah selalu gembur atau lunak. Padahal, lahan dengan kemiringan seperti itu paling tepat dimanfaatkan untuk tanaman tegakan keras, tidak dikelola untuk usaha intensifikasi pertanian agar tanahnya tidak luruh.

Namun, hal demikian mungkin tidak disadari oleh masyarakat, hingga bencana tanah longsor datang menghampiri.

Kejadian yang merenggut nyawa setidaknya 95 penduduk itu mengisyaratkan rendahnya kewaspadaan pemerintah setempat. Jika masyarakat tidak paham bahwa kondisi wilayahnya rawan longsor, masih dapat dimaklumi karena keterbatasan informasi. Namun, jika pemerintah tidak tahu bahwa lokasi tersebut berbahaya adalah sesuatu yang tidak mungkin. Sudah banyak kajian tentang daerah-daerah di Banjarnegara yang berpotensi tinggi rawan longsor dan hasilnya diinformasikan kepada mereka lewat jalur resmi ataupun media massa.

Salah satunya adalah proyek ”Georisk” kerja sama pemerintah Indonesia-Jerman yang meneliti kerentanan gerakan tanah. Hasil riset itu menunjukkan, Jawa Tengah merupakan wilayah di Indonesia yang rawan bencana longsor, terutama di daerah yang berbukit-bukit dan bergunung-gunung. Daerah yang memiliki kerentanan tertinggi di Jateng berada di sekitar kaki gunung atau gugusan perbukitan, seperti Pegunungan Ungaran, Menoreh, Dieng, dan Kendeng. Pegunungan Dieng merupakan daerah rawan longsor terluas di Jateng sehingga kasus longsor di sekitar pegunungan ini sering terjadi (Kompas, 20 Oktober 2010).

Salah satu bencana longsor di Pegunungan Dieng yang pernah terjadi dalam skala besar adalah peristiwa longsor di Dusun Gunungraja, Sijeruk, pada tahun 2006 yang menewaskan 76 warga. Peristiwa itu bisa dikatakan mirip dengan bencana di Karangkobar karena topografi lahannya yang berkemiringan curam dan permukaannya diolah warga untuk tanaman semusim yang bersifat membuang air.

Peristiwa Sijeruk sekitar delapan tahun silam seharusnya menjadi pembelajaran bersama untuk memahami karakteristik wilayah dan potensi bencana agar memudahkan upaya mitigasi. Namun, sepertinya upaya meminimalisasi korban bencana belum berjalan optimal. Ketidaktahuan penduduk dan jatuhnya korban hampir 100 warga di Karangkobar mengindikasikan kurang berdayanya kinerja pemerintah dalam mitigasi bencana longsor. Padahal, kajian ilmu dan pengalaman peristiwa pahit sudah sering disodorkan dan selayaknya ditindaklanjuti.

Aneka rupa bencana

Peran pemerintah sangat penting untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang mitigasi bencana alam di wilayahnya. Geografi Indonesia berupa gugusan kepulauan yang terpencar-pencar membuat kewaspadaan masyarakat terhadap bencana alam tidak sama. Apalagi, lokasi kejadian bencana yang tersebar dan berpindah-pindah membuat ingatan masyarakat mudah lupa. Pemerintah sebagai pemegang kebijakan memiliki posisi penting untuk terus mendidik masyarakat agar peduli terhadap bencana.

Kewaspadaan menjadi kata yang penting bagi penduduk Indonesia karena bencana alam merupakan hal yang rutin dan bisa terjadi setiap saat. Letak Indonesia yang merupakan pertemuan lempeng dunia, yakni Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, serta lempeng Filipina di sekitar Maluku membuat wilayah Indonesia rutin mengalami bencana, seperti gempa bumi, tsunami, dan gunung meletus. Bahkan, beberapa di antaranya merupakan bencana terbesar di dunia.

Menurut laporan Badan Geologi, Kementerian ESDM, sepanjang tahun 1924-2005 setidaknya ada 10 kejadian gempa bumi yang merenggut nyawa minimal 33 orang per kejadian. Peristiwa yang menelan korban jiwa terbanyak adalah gempa bumi di Wonosobo pada 2 Desember 1924 yang menelan korban jiwa sebanyak 727 orang.

Angka korban gempa yang berpusat di darat tidak ada artinya dibandingkan dengan korban gempa yang berpusat di laut, kemudian disusul dengan tsunami. Sepanjang tahun 1883-2004, setidaknya ada 12 bencana gempa dan tsunami di sejumlah tempat di Indonesia. Korban terbanyak adalah tsunami Aceh pada akhir tahun 2004 yang mencapai 290.000 orang dan tsunami akibat gempa tektonik letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 sebanyak 36.000 orang.

Bencana tsunami 2004 di Aceh merupakan bencana tsunami terbesar di dunia. Menurut laporan National Geophysical Data Centre, NOAA, 2005, sepanjang tahun 1570-2004 dari 25 catatan tsunami global, tsunami di Aceh merupakan tsunami terbesar di dunia karena menewaskan ratusan ribu orang di beberapa negara.

Besarnya skala kematian akibat tsunami Aceh seharusnya menjadi peringatan penting bahwa potensi bencana besar selalu mengintai setiap saat. Bahkan, gunung yang terlihat indah dan tenang pun bisa meletus dan mengubah peradaban manusia. Letusan Gunung Toba di Sumatera Utara dan Tambora di NTB adalah contoh bencana kegunungapian besar di dunia karena menyebabkan perubahan iklim secara global.

Rentetan sejarah kejadian bencana itu seharusnya menjadi pelajaran berharga. Bukan berarti takut, tetapi dipelajari dengan teliti untuk meminimalkan risiko bencana. Risiko bencana bisa diminimalkan dengan menjaga perilaku yang berwawasan lingkungan, menghindari zona-zona rawan bencana untuk kegiatan usaha atau permukiman, dan tidak mengolah lahan yang rentan gerakan tanah.

Selain itu, menjaga sungai agar tetap mengalir dan dalam adalah tindakan penting agar terhindar dari bencana akibat perilaku manusia, seperti banjir, kekeringan, dan tanah longsor.(Litbang Kompas/Budiawan Sidik A)

Komentar Via Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *