Home / OPINI / Perempuan, Mengapa Harus Menjadi TKW ?

Perempuan, Mengapa Harus Menjadi TKW ?

Tulisan ini dibuat sebagai refleksi sekaligus memotivasi perempuan, tidak saja karena kasus hukuman mati TKW di Arab Saudi Satinah, tetapi tulisan ini juga, dalam rangka memperingati hari perempuan sedunia 8 Maret lalu dan menyambut hari kartini pada tanggal 21 April. Tulisan ini bukan hendak menyudutkan perempuan yang mengambil jalan pintas berpisah dari keluarga demi merubah kehidupan, keluar dari himpitan ekonomi yang seolah tidak bisa teratasi, sehingga memilih untuk menjadi TKW. Tetapi tulisan ini ingin mengajak perempuan untuk melihat sudut pandang lain yang memotivasi perempuan, untuk mendulang emas di negeri sendiri, dengan jeli melihat peluang.

Lebih baik hujan batu di negeri sendiri, dari pada hujan emas di negeri orang. Pepatah ini mengisaratkan, bagaimana pun bergelimpangan harta di negeri orang, lebih baik berkumpul bersama keluarga di negeri sendiri. Tetapi pepatah ini agaknya sudah tidak popular lagi. Tidak ada yang mau hujan batu di negeri sendiri, makan tak makan asal kumpul dengan keluarga, itu non sence. Yang ada hanyalah pertengkaran, kekacauan dan lainnya. Kisah pilu kemiskinan di negeri sendiri sudah banyak kita dengar dan baca dari media massa bahkan disekitar kita. Tidak sedikit yang justru menggadaikan anaknya, mengeksploitasi anaknya bekerja di jalanan, itu tetap tidak cukup untuk menghidupi keluarga ditengah sulitnya mencari lahan pekerjaan.

Pilihan menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang nekat mencari penghidupan dinegeri Jiran dan meninggalkan keluarga, anak yang masih kecil-kecil dititipkan pada orang tua atau saudara, menggadaikan sebahagian rasa keibuannya, adalah pilihan yang tidak gampang, tetapi justru banyak dilakukan oleh ribuan perempuan Indonesia. Ribuan Perempuan Indonesia tengah mencari hujan uang di negeri orang. Tentu saja hal itu dilakukan karena rasa frustasi yang mendalam, karena matinya sumber penghidupan di negeri sendiri.

Banyak kisah sukses bekerja menjadi TKW, tetapi tidak sedikit yang harus menerima kepahitan. Kisah yang paling santer saat ini adalah hukuman mati yang terpaksa harus diterima Satinah karena perdebatan dan konflik bathin yang tidak tertahankan hingga ia harus membunuh majikannya, banyak juga kisah pilu penganiayaan TKW seolah berita langganan bagi TKW yang menimpa negeri kita, penghinaan dan pengkerdilan terhadap nilai-nilai kemanusiaan termasuk pelecehan atas nama bangsa ini. Tidak hanya itu, keretakan hubungan rumah tangga akibat perpisahan yang cukup lama dengan suami, adalah kisah yang mau tak mau menjadi bumbu yang tak mengenakan. So ? haruskah kita masih memburu rezeki hingga ke negeri orang jika resiko hidup yang harus ditanggung begitu besarnya.

Berjiwa enterprenir

Memang, mencapai sukses tidak segampang membalikan telapak tangan. Dibutuhkan keuletan dan juga kerja keras. Hanya berharap penghasilan dari kerja keras suami saja tentunya   tidak cukup, berharap dari penghasilan pertanian atau nelayan ditengah alam yang sering tak bersahabat, masih sangat mustahil bisa memenuhi kebutuhan keluarga, apalagi kita punya cita-cita b esar menyekolahkan anak hingga ke perguruan tinggi. Itu saja juga tidak cukup, karena ditengah zaman yang serba kompetitif, tangan-tangan perempuan juga harus menjadi bagian penting untuk menguatkan ekonomi keluarga.

Yah berkarir! Tentunya berkarir tidak harus pada sebuah perusahaan, di rumah pun perempuan masih bisa berkarya tanpa harus meninggalkan anak-anak. Banyak hasil karya perempuan yang lahir dari kreatifitas ia di rumah. Mulai dari menghasilkan kerajinan tangan, seperti menjahit, bordir, anyaman tikar, bunga, salon dan lainnya atau membuat makanan seperti tempe, tahu, kerupuk, kue yang dipasarkan dan menghasilkan keuntungan.

Ada banyak pengalaman perempuan yang berhasil memperkuat ekonomi keluarganya. Seorang pengrajin tape di siak, yang kelihatannya sepele, tetapi penghasilannya bisa mencukupi kehidupan keluarganya dan sebanding dengan gaji yang ia terima pada saat ia bekerja di sebuah perusahaan. Para pengrajin Tahu/ Tempe, makanan asli Indonesia itu bisa menjadi sandaran hidup mereka kala pertanian karet atau sawit belum panen. Para penjahit pakaian yang berhasil menerima orderan pakaian sekolah, ia bisa menerima omset besar kala musim anak sekolah masuk. Bahkan kita melihat ada sentra pengrajin kerupuk yang dihasilkan dari tangan-tangan perempuan.Peluang-peluang bisnis yang kelihatannya kecil ternyata bisa menghasilkan sesuatu yang besar.

Bila perempuan Indonesia jeli melihat peluang bisnis di kampungnya sendiri, tentu tak ada lagi tenaga yang harus bekerja di negeri orang. Ia masih bisa mengais rezeki di negeri sendiri tanpa harus beresiko meninggalkan keluarga.

Pemodalan

Banyak yang beralasan tidak bisa membangun usaha karena tidak memiliki modal. Tentu saja dana adalah modal utama dalam membangun bisnis. Tetapi itu bukan satu-satunya modal bagi seorang enterprener. Modal lainnya adalah kepercayaan. Bila anda adalah sosok yang dipercaya dan usaha anda dipandang maju, tanpa diminta pun akan berjejer pemilik modal yang mau menanamkan sahamnya kepada anda. Baik untuk pengembangan usaha atau penambahan modal.

Bagaimana memulai usaha bila modal awalnya saja kita tidak memiliki ? yah, mulailah dari yang kecil. Pertama, untuk mengawali usaha kita juga harus melihat pasar yang menjadi target usaha kita. Apa lagi usaha kita belum cukup dikenal khususnya kwalitasnya. Tentunya pengkonsumsi usaha kita juga masih sedikit.

Bila usaha rintisan kita yang kecil-kecilan ini sudah berjalan dengan baik, dan bisa menjangkau pasar di luar pasar kita yang telah ada, bukan tidak mungkin untuk mengembangkan usaha tersebut, seperti menambah alat, menambah tenaga kerja, menambah bahan baku. Nah, untuk penambahan itu memang kita butuh penambahan modal. Dari mana penambahannya, adakah tabungan dari usaha kita sebelumnya, kalau tidak kita boleh meminjamnya dari penanam modal. Untuk usaha-usaha ini mulai banyak bank perkreditan rakyat yang siap menanamkan modalnya. Bahkan program-program Pemerintah mulai melihat potensi pengembangan usaha sebagai upaya pengentasan kemiskinan. Tentunya kita harus yakin dulu, apakah penambahan modal ini bisa memperbesar usaha, mengembalikan pinjaman dan bisa membayar bunga pinjaman. Dan yang pasti, dengan penambahan modal ini anda harus yakin keuntunganya juga harus bertambah. Sehingga sebanding dengan usaha besar yang dilakukan seiring dengan tenaga yang dikeluarkan dan keuntungan yang didapatkan.

Komentar Via Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *