Home / BERITA / Sejarawan: Jingle Bells Diciptakan Seorang Bajingan

Sejarawan: Jingle Bells Diciptakan Seorang Bajingan

 

jingle

Jingle bells, jingle bells
Jingle all the way
Oh! What joy it is to ride
In a one horse open sleigh

Alunan lagu riang itu identik dengan Natal. Ia biasa dimainkan bersamaan dengan mulai penuhnya mal dengan diskon dan hiasan dominan warna merah-hijau. Jingle Bells memang lagu Natal terlaris dan paling populer sepanjang masa.

Tapi sejatinya, itu sama sekali bukan lagu Natal. Penciptanya pun seorang bajingan. Proses pembuatannya juga bukan di sebuah studio musik dengan peralatan mewah. Jingle Bells lahir di dekat Sungai Mystic, Medford, Massachusetts.

Kyna Hamill, profesor sastra di Universitas Boston yang juga Wakil Presiden Medford Historical Society menjelaskan asal muasal lagu Jingle Bells, dan dikutip situs CBC News.

Katanya, lagu itu diawali dari kereta terbuka yang ditarik satu kuda. Seperti ada di liriknya: one-horse open sleigh. Ujar Hamill, Medford dahulu adalah rumah bagi pacuan kereta kuda yang diadakan di jalanan Salem Street.

“Karena kegiatan yang banyak dilakukan pada pertengahan abad ke-19 itu, pacuan kereta kuda di jalanan ini adalah satu dari yang terpopuler kala itu,” ujar Hamill menjelaskan. Dipercaya, itu memunculkan inspirasi Jingle Bells.

Sekarang, jika berjalan di sepanjang High Street dan berhenti di Rosetti Optical, akan menemukan plang keterangan soal Jingle Bells.

“Jingle Bells diciptakan di sini. Di tempat ini berdiri Kedai Minuman Tavern, yang pada 1850 James Pierpont (1822-1893) menulis lagu Jingle Bells dengan kehadiran Mrs. Otis Waterman, yang di kemudian hari memastikan bahwa lagu itu ditulis di sini. Pierpont mendapat hak cipta atas lagunya tahun 1857 ketika tinggal di Georgia. Jingle Bells bercerita tentang pacuan kereta kuda yang diselenggarakan di Salem Street awal 1800-an,” demikian tulisan yang terpatri di plang itu.

Hamill menjelaskan, “Pierpont sebenarnya adalah seorang bajingan.” Ia bukan lelaki yang ada untuk keluarganya. “Dia pergi setiap waktu. Dia keluar mencoba mencari jalan berburu emas. Dia pergi ke semua tempat dan meninggalkan istrinya bersama ayahnya,” ujar Hamill.

Saat istrinya meninggal, ia dengan cepat melupakannya. Pierpont justru menikah lagi dan menelantarkan anak-anaknya. “Dia bahkan tidak datang ke pemakaman istri pertamanya. Pendek kata, dia bukan orang baik,” ucapnya.

Merasa aneh ketika ia menciptakan lagu Natal?

Ketahuilah, Jingle Bells bahkan sebenarnya bukan lagu Natal sama sekali. Menurut Hamill, itu lebih mengesankan lagu untuk minum-minum.

“Jika Anda ingat bahwa salah satu industri terbesar di Medford adalah pembuatan minuman keras, dan jika Anda benar-benar mencermati liriknya, dengan kaca mata bahwa ada pacuan kereta kuda di jalan ini, akan terlihat bahwa sebenarnya itu lagu minum-minum,” kata Hamill.

Ia menambahkan, banyak kata di lirik Jingle Bells yang terkait menggambarkan jelas kereta kuda, kegiatan yang biasanya disertai aktivitas mabuk-mabukan serta berjudi.

Menelaah bait dari versi kedua Jingle Bells, Hamill menemukan fakta lain. Ia melihat, Pierpont seperti berbicara lewat lirik lagu untuk lepas dari bayang-bayang ayahnya.

“Orang-orang yang mencintai Natal mungkin tidak suka ini. Tapi saya pikir, ada sesuatu tentang hubungan ayah dan anak di sini. Lagunya menunjukkan betapa dia tidak mau menjadi seperti ayahnya. Dia mau bersenang-senang.”

Lantas, bagaimana lagu yang diciptakan seorang bajingan yang menelantarkan istri dan anak serta membenci ayahnya itu bisa menjadi lagu Natal? Hamill sekali pun tak tahu jawabannya.

“Ada orang-orang yang punya teori konspirasi super kuat tentang lagu ini. Saya tidak tahu mengapa mereka sangat bersemangat,” ucapnya.

Konspirasi yang dimaksud Hamill, mengutip CBC News, ada di Savannah, sebuah kota tua di Georgia. Penduduk di sana percaya, orang-orang Medford mencuri lagu Jingle Bells dari mereka.

Menurut versi mereka, setelah istri pertama Pierpont meninggal, si bajingan pindah ke Savannah. Ia menikah dengan anak perempuan wali kota Thomas Purse, Eliza Jane Purse. Pierpont juga mendedikasikan hidup menjadi pastor di sebuah gereja. Ia menjadi pengarah musik.

Saat perayaan Thanksgiving, ia memimpin jemaah membawakan Jingle Bells dengan meriah. Orang-orang menyukainya, dan membawakannya lagi sebulan kemudian, saat perayaan Natal tiba.

Sejak itu, Jingle Bells pun menjadi lagu Natal. Di gereja tempat Pierpont bekerja, tertulis, “James L. Pierpont (1822-1893), komposer Jingle Bells, melayani sebagai pengarah musik di gereja ini tahun 1850, ketika ini masih menjadi Gereja Umum di Oglethorpe Square. Anak dari sosok perubahan di Boston, Pastor John Pierpont, dia adalah saudara Pastor John Pierpont Jr, pemimpin gereja ini, dan paman dari John Pierpont Morgan. Dia menikahi Eliza Jane Purse, anak perempuan Wali Kota Savannah, Thomas Purse, dan melayani bersama sejumlah pasukan berkuda. Dia dimakamkan di Pemakaman Laurel. Pencipta banyak lagu, salah satu yang terkenal adalah Jingle Bells.” (cnn)

Komentar Via Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *